Twilight Best Movie 2008

Sumber : Disturbed Interview

‘Twilight’, sebuah novel karya Stephenie Meyer, merupakan fenomena tersendiri saat diterbitkan di Amerika Serikat sana. Menciptakan hype yang mungkin bisa menandingi seri Harry Potter yang telah kelar. Kesuksesan buku tersebut, sebagaimana Harry Potter, berbuntut pada serangkaian kisah lanjutan dan (tentu saja) adaptasi layar lebar.

Catherine Hardwicke (‘Thirteen’, ‘Lords of Dogtown’) ditunjuk sebagai penanggung jawab atas proses adaptasi. Dengan resume mengesankan Hardwicke terhadap subkultur remaja dalam film-film sebelumnya, maka ekspektasi yang tinggi tentu saja pantas disematkan pada versi film adaptasinya.

Saya sudah membaca novelnya (beserta kelanjutannya), dan terus terang saja, saya akhirnya tidak akan berani menaikan ekspektasi saya setinggi mungkin untuk filmnya. ‘Twilight’ adalah novel yang menghibur, tapi tidak terdapat kedalaman yang cukup untuk membuat sebuah naratif yang menekankan pada karakter atau eksplorasi subkultur remaja secara umum. Karena apa? Karena ini adalah melodrama cinta remaja biasa. Tidak ada yang salah dengan itu. Tapi ‘Twilight’ hadir dengan kedalaman yang dangkal.

Ia bercerita tentang seorang gadis kikuk benama Bella Swan, yang pindah dari kota besar menuju sebuah kota kecil bernama Forks, untuk menetap bersama ayahnya. Lantas ia jatuh cinta dengan seorang pemuda misterius bernama Edward Cullen. Sebagai seorang remaja, pubertas memainkan peran penting dalam mengarahkan kerangka berfikir Bella. Ia sangat tertarik kepada Edward, secara erotis maupun platonis. Meski sebenarnya Edward adalah seorang vampir!

Edward pada mulanya berusaha untuk menghindari calon potensial sebagai mangsanya itu. Namun, tampaknya cinta sejati bersemi diantara mereka, sehingga batas antara cinta dan nafsu mengabur, kemudian menyublim menjadi keterikatan secara kimia diantara mereka. Sebuah cinta terlarang. Semakin terlarang, semakin menggairahkan.

Edward dan keluarganya bukan vampir biasa (bahkan mereka memang adalah jenis baru atas invensi Mayer yang mendobrak segala tipikal vampir). Mereka tidak menghisap darah manusia. “Kami vegetarian,” begitu katanya. Tampaknya ayah angkat Edward, Mr. Cullen (Peter Fascinelli) mempunyai perspektif moral tersendiri untuk keluarganya, karena tidak mau dipersamakan dengan vampir lain yang mereka referensikan sebagai monster.

Kebahagiaan mungkin akan diraih Bella, namun sekelompok vampir lain, yang mempunyai perspektif konvensional terhadap manusia, menyambangi Forks. Dengan kehadiran vampir-vampir lain ini mungkin saja eksistensi Bella sebagai manusia akan segera berakhir, meski Bella sebenarnya dengan sepenuh hati menginginkan Edward mengubahnya menjadi seorang vampir.

‘Twilight’ memakai struktur melodrama dalam penceritaannya, ketimbang aksi apalagi horor. Oleh karena itu, pembaca perempuan sebagai target akan merasa terpenuhi fantasinya akan sebuah percintaan agung manusia-vampir. Hardwicke pun memilih pendekatan yang sama untuk filmnya.

Dia, sebagaimana Meyer, tidak benar-benar tertarik untuk menggali mitologi vampir ini sebagai sebuah euforia mistis. Meski sebenarnya kisah ini telah memperkenalkan jenis vampir jenis baru yang menarik. Kisah cinta adalah fokus utama. Cinta terlarang adalah bumbu yang manis. Formula yang sempurna unutuk sebuah chick-flick.

Chick-flick bisa saja sangat menyenangkan dan kadang mempunyai kedalaman yang subtil pula (‘The Devil Wears Prada’, anyone?). Namun, ‘Twilight’ memang tidak sedalam itu. Ia memang tidak ingin mengajak penonton untuk mengkontemplasi apapun. Ia hanya ingin penonton filmnya (dan juga pembacanya, tentu saja) untuk tersedot habis dalam intrikasi lika-liku percintaan seorang remaja.

Mungkin karena disini remaja adalah subjek sekaligus objek, maka ia terjebak pada streotipikal yang berlaku secara umum, mereka dangkal. ‘Twilight’ pun bermain-main di ranah aman; dia-cinta-atau-tidak? Tidak ada niat untuk bermain dalam elaborasi subkultur seperti ‘Mean Girls’ misalnya.

Bukan berarti ‘Twilight’ adalah film yang buruk. Tidak sama sekali, meski ia jauh dari sempurna. Untuk sasaran penontonnya (remaja perempuan) ia akan sangat memuaskan. Namun secara umum, ‘Twilight’ adalah jenis film hiburan yang lebih cocok disaksikan di televisi (gaya penceritaan yang datar; spesial efek yang jelek, yang bahkan bisa ditandingi oleh sinetron misteri di Indosiar).

Bintang utama dari film ini tentu saja Kristen Stewart. Saya menjadi sangat menyukai Stewart, semenjak ia berduet dengan Jodi Foster di thriller menegangkan karya David Fincher, ‘Panic Room’. Kini ia tengah berkembang, secara fisik maupun karakterisasi. Dari film ke film, Stewart semakin menunjukkan bintangnya. Ia memberikan kedalam yang magnetik untuk karakter Bella dan menutupi segala kelemahan Robert Pattimnson sebagai lawan main, yang lebih mirip poster boy ketimbang benar-benar integratif dengan karakternya.

‘Twilight’ adalah film yang cukup menyenangkan bagi saya dan cukup dapat menikmatinya. Tapi itu mungkin karena saya sudah membaca bukunya, sehingga saya bisa menambal detil yang hilang di filmnya dengan informasi diotak yang sudah saya perolehi sebelumnya. Namun, bagi yang sama sekali belum membacanya, saya tidak berani merekomendasikan film ini.

Oh ya. ‘Let The Right One In’ adalah film dari Swedia yang memiliki tema yang sejenis. Jika melodrama percintaan bukan tipe anda, mungkin film tersebut akan menjadi alternatif yang menarik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: